Pernahkah anda mendengar “nging” yang melengking atau suara “ngung” yang mendengung pada sound system anda? Bunyi bising tersebut disebabkan oleh fenomena yang disebut feedback.

Feedback adalah fenomena yang terjadi ketika mikrofon menangkap suara dari speaker saat speaker itu mengeluarkan suara dari mikrofon, sehingga menciptakan Feedback loop. Feedback mikrofon juga kadang-kadang disebut sebagai ‘efek Larson’ – suara melolong mengerikan yang disukai oleh gitaris rock dan dibenci oleh setiap sound engineer dan presenter. Ini biasanya digambarkan sebagai sinyal yang memberi umpan balik ke dirinya sendiri. Feedback biasanya terjadi selama pertunjukan langsung atau di mana pun ada speaker yang mengeluarkan suara dari mikrofon terdekat.

Bagaimana Feedback Bisa Terjadi?

Feedback dapat terjadi pada frekuensi apa pun. Suara Feedback terjadi ketika volume sinyal mikrofon yang dikeluarkan melalui speaker mencapai ambang batas di mana ia mulai memainkan sinyal mikrofon lebih keras setiap kali melewati loop. Speaker memperkuat sinyal mikrofon sehingga jika mikrofon terlalu dekat dengan speaker yang memperkuat sinyal yang sama, mikrofon akan menangkap sinyalnya sendiri secara real-time dan memperkuat sinyal lebih keras dan lebih keras setiap kali melewati speaker. Sinyal mulai tumbuh dalam volume dan dengan cepat menyebabkan loop feedback. Secara teknis,  Feedback terjadi ketika penguatan dalam loop sinyal mencapai “kesatuan” (gain (0dB). Suara feedback biasanya memiliki frekuensi atau nada yang sangat tinggi, dan biasanya sangat keras.

Singkatnya, Feedback adalah putaran suara. Saat mikrofon menangkap suara dan sinyal dari mikrofon tersebut diputar melalui sistem speaker di dekat mikrofon, feedback dapat terjadi karena ada loop yang sedang dibuat. Speaker memainkan suara yang diambil dari mikrofon dan mikrofon mengambil suara yang sedang diputar speaker.

Contoh sederhana adalah mikrofon dan speaker monitor. Speaker Monitor mengeluarkan suara yang kemudian ditangkap oleh mikrofon. Speaker Monitor kemudian memperkuat suara itu dan mengeluarkan kembali suara tersebut ke tempat mikrofon mengambilnya lagi. Akhirnya, ketika volume yang masuk ke mikrofon sama dengan volume yang keluar dari monitor, Feedback Mulai Terjadi.

Dari pembahasan diatas, ada tahapan bagaimana feedback bisa terjadi, yaitu :

  • Mikrofon menangkap suara dan mengubahnya menjadi sinyal audio
  • Sinyal audio dikirim ke loudspeaker dan diperkuat sebagai suara
  • Mikrofon mengambil suara dari pengeras suara
  • Sinyal yang lebih besar dikirim ke loudspeaker dan menjadi lebih keras
  • Ini menciptakan lebih banyak suara untuk diambil dari mikrofon
  • Siklus berlanjut dan berubah menjadi Feedback

Apa Saja Faktor yang menentukan terjadinya Feedback?

Amplifikasi Sinyal Mikrofon

Meningkatkan amplifikasi (penguatan) preamp mikrofon mengirimkan lebih banyak level sinyal ke pengeras suara sambil juga meningkatkan sensitivitas mikrofon dan tingkat kebisingan. Risiko terjadi feedback akan naik.

Volume Saluran Mikrofon

Setelah penguatan diterapkan, mixer audio langsung juga memiliki volume saluran yang menyesuaikan jumlah sinyal yang dikirim ke speaker utama dan speaker monitor. Menaikan volume mikrofon terlalu tinggi juga akan menghasilkan feedback mikrofon jika kita tidak hati-hati.

Volume Pengeras Suara

Menaikkan volume pengeras suara menciptakan intensitas suara yang lebih besar di udara. Ini, pada akhirnya, akan menyebabkan mikrofon menghasilkan lebih banyak sinyal. Meningkatknya volume loudspeaker terlalu banyak, akan membuat pengambilan mikrofon akan melampaui ambang batas feedback dan menyebabkan feedback.

Jarak Antara Mikrofon Dan Loudspeaker

Hukum reverse square menyatakan bahwa (dalam medan bebas) intensitas tingkat suara berkurang sebesar 75% untuk setiap penggandaan jarak. Tentu saja, kondisi tidak pernah ideal, tetapi hukum ini berguna dalam memperkirakan intensitas suara saat merambat melalui udara. Oleh karena itu, semakin jauh mikrofon dari pengeras suara, semakin kecil risiko feedback.

Arah Dan Sensitivitas Mikrofon

Arah atau “sensitivitas arah” mikrofon memainkan peran penting dalam mengelola feedback. Agar tidak mudah feedback, pilihlah mikrofon dengan polar pattern jenis cardioid karena mic dengan jenis polar pattern cardioid lebih sensitif dalam menangkap suara dari arah depan mikrofon saja.

Respons Frekuensi Atau “Nada” Mikrofon

Respons frekuensi dan nada pada dasarnya berarti kepekaan mikrofon pada frekuensi tertentu. Mikrofon dengan respons frekuensi high-end yang buruk kurang sensitif terhadap suara high-end dan akan secara efektif menangani lebih banyak suara frekuensi tinggi sebelum mengumpan kembali. Mikrofon dengan respons frekuensi low-end yang buruk kurang sensitif terhadap suara low-end akan secara efektif menangani lebih banyak suara frekuensi rendah sebelum terjadi feedback. Mikrofon dynamic biasanya memiliki roll-off frekuensi tinggi dengan baik dalam jangkauan pendengaran manusia yang dapat didengar.

Ukuran Dan Bentuk Ruang Fisik

Ukuran dan bentuk ruang fisik menghasilkan karakteristik akustik tertentu. Gelombang berdiri dan pantulan dalam ruang akustik berpotensi menghasilkan umpan balik mikrofon.

Gelombang berdiri adalah panjang gelombang suara yang sangat cocok antara dua permukaan paralel karena panjang gelombangnya sangat cocok. Ketika tegak lurus terhadap permukaan, pantulannya akan sefase dan ditingkatkan intensitasnya melalui interferensi konstruktif.

Setiap panjang gelombang suara memiliki frekuensi yang sesuai, dan frekuensi gelombang berdiri diperkuat secara alami. Ini adalah “frekuensi bermasalah dan biasanya akan menyebabkan umpan balik pada tingkat yang lebih rendah (sebelum frekuensi lain dalam spektrum suara).

Refleksi juga dapat menyebabkan masalah. Mereka pada dasarnya adalah gelombang suara yang memantul dari permukaan dalam ruang akustik. Ruang kecil memiliki pantulan yang lebih kuat karena gelombang suara awal tidak akan merambat sejauh (dan kehilangan intensitas) sebelum mencapai permukaan. Oleh karena itu, ruang yang lebih kecil menawarkan potensi yang lebih besar bagi pantulan ini untuk memasuki mikrofon pada tingkat yang dapat menyebabkan umpan balik.

Penyebab terjadinya Feedback :

  • Penempatan Speaker dan Mic yang kurang tepat. Misalnya 
  • Pengaturan volume dan Gain yang terlalu tinggi.
  • Ruangan yang terlalu bergema.
  • Salah beli mikrofon. Misalnya menggunakan mic clipon dengan polar pattern omnidirectional di dekat speaker monitor.

Cara mengatasi Feedback

Berikut adalah beberapa saran untuk mengendalikan umpan balik:

  • Ubah posisi mikrofon dan/atau speaker sehingga output speaker tidak diumpankan langsung ke mikrofon. Jauhkan speaker lebih maju (yaitu lebih dekat ke penonton) dari mikrofon.
  • Gunakan mikrofon yang memiliki polar pattern lebih terarah (cardioid).
  • Berbicara (atau bernyanyi) lebih dekat dengan mikrofon.
  • Matikan mikrofon saat tidak digunakan.
  • mengecilkan volume atau gain pada mikrofon.
  • Menyamakan sinyal, menurunkan frekuensi yang menyebabkan Feedback. Dapat dilakukan dengan memotong frekuensi dengan equalizer.
  • Gunakan Noise Gate (secara otomatis mematikan sinyal ketika berada di bawah ambang batas tertentu) atau filter.
  • Turunkan output speaker, agar mikrofon tidak mengangkatnya.
  • Hindari mengarahkan speaker langsung ke permukaan reflektif seperti dinding.
  • Gunakan feed injeksi langsung sebagai pengganti mikrofon untuk instrumen musik.
  • Gunakan headset atau monitor in-ear sebagai ganti monitor speaker.
  • Anda juga dapat mencoba Feedback Destroyer digital. Ada berbagai model yang tersedia dengan berbagai tingkat efektivitas.

Catatan :

  • Mengatasi feedback dengan equalizer dan feedback destroyer dapat mengakibatkan suara sound system kita menjadi kurang natural karena ada sebagian frekuensi yang telah di cut.
  • Setiap orang berbicara dengan kelantangan yang berbeda. Bila kita berhasil mengatasi feedback dengan menurunkan volume pada mikrofon, Feedback tersebut mungkin akan muncul kembali bila mic tersebut digunakan oleh orang yang berbeda.